Jumat, 04 April 2014

Klinik Spesialis Anak yang Nyaman dan Menyenangkan

Praktek dokter spesialis anak di Klinik Utama Kebidanan FATIMAH Ujungberung Bandung mengangkat konsep minimalis, nyaman dan menyenangkan. Tujuan utamanya adalah pasien bayi dan anak yang berkunjung ke tempat ini tidak harus merasa takut terhadap sosok dokter, karena kesan pertama yang mereka akan terima adalah "MENYENANGKAN". 


Praktek dokter spesialis anak ini dikoordinir oleh dr. Eki Rakhmah Zakiyyah, Sp.A., M.Kes. (dokter spesialis anak lulusan Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung / FK UNPAD).

dr. Eki (begitu beliau akrab disapa) menyampaikan bahwa kedepannya tempat praktek ini mendapat tempat tersendiri di kalangan pasien dan keluarga pasien bukan saja sebagai tempat berobat namun lebih mengarah kepada tempat konsultasi mengenai kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak khususnya di wilayah Bandung Timur.


Kami tunggu kehadiran putra dan putri ini, tidak saja hanya untuk "mengobati penyakit", namun yang lebih utama adalah mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangannya menuju Anak Indonesia yang SEHAT dan CERDAS. Amien.


Selasa, 04 Maret 2014

Klinik Utama Kebidanan FATIMAH menjalin kerjasama dengan RS Al Islam Bandung

Pada bulan Februari 2014 Klinik Utama Kebidanan FATIMAH menjalin kerjasama dengan RS Al Islam Bandung sebagai "Rumah Sakit Rujukan" dan juga "Rumah Sakit Jejaring". Kerjasama diantara kedua belah pihak ini merupakan langkah nyata dari Manajemen Klinik Utama Kebidanan FATIMAH untuk memberikan pelayanan yang pari purna kepada pasien dan masyarakat luas, dengan tanpa mengesampingkan aspek SAFE and SECURE. Jalinan kerjasama ini akan dilaksanakan selama 5 (lima) tahun kedepan, dan tidak menutup kemungkinan akan diperpanjang dan diperluas jenis kerjasamanya. MoU ditandatangani oleh dr. H. Sigit Gunarto, Sp.KFR (Direktur RS Al Islam Bandung) dan dr. Indah Maharani, Sp.OG. (Penanggung Jawab Klinik Utama Kebidanan FATIMAH).

CEO Mulus Rahayu Group Meraih 2nd Best Paper Pada FIKI 2013


Pada gelaran Forum Informatika Kesehatan Indonesia (FIKI) 2013 lalu yang diselenggarakan di Hotel Patra Semarang pada bulan April 2013, pimpinan kami Bapak Oktri Mohammad Firdaus, ST., MT. berhasil meraih penghargaan sebagai "2nd Best Paper". Penghargaan ini merupakan salah satu bukti sumbangsih beliau dalam memajukkan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat menunjang peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia dan juga untuk kemajuan bidang Healthcare Systems. Semoga beliau dapat menghasilkan karya-karya nyata berikutnya yang dapat secara langsung dirasakan oleh Bangsa dan Negara Indonesia.

Selamat Pak Okky! Kami Bangga Atas Karyamu!

Salam hangat kami,


Iwan Abdillah Ridwan, S.Si.
Ketua Paguyuban Karyawan MULUS RAHAYU

Klinik Utama Kebidanan FATIMAH

Mulai Tahun 2014 Rumah Bersalin FATIMAH melakukan proses transformasi menjadi Klinik Utama Kebidanan FATIMAH. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pasien dan juga masyarakat pada umumnya. Adapun hal-hal baru yang menjadi bagian dari transformasi ini adalah :
  1. Praktek Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan (dilengkapi USG dengan teknologi terbaru)
  2. Praktek Dokter Spesialis Anak (dilengkapi dengan sarana konsultasi yang komprehensif)
  3. Instalasi Farmasi
Semoga dengan proses transformasi ini, kami dapat melayani masyarakat luas dengan lebih amanah dan tentunya lebih baik.

Salam,


Oktri Mohammad Firdaus, ST., MT.
CEO Mulus Rahayu Group

Rabu, 15 Juni 2011

Kunjungan IBI Jawa Timur & PT Nestle Region Jawa Timur

IBI Jawa Timur

Jawa Timur

Pada hari Sabtu, 11 Juni 2011 Rumah Bersalin FATIMAH Ujungberung Bandung kehadiran rombongan Bidan-Bidan berjumlah kurang lebih 60 orang yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Timur bekerjasama dengan PT. Nestle Region Jawa Timur yang dipimpin oleh ibu Levy (Area Manager PT Nestle Jawa Timur).

Maksud dari kunjungan ini adalah sebagai upaya melakukan studi banding dan sharing proses pengembangan Bidan Praktek Swasta (BPS) menjadi sebuah Rumah Bersalin (RB) yang respresentatif. Kunjungan ini terdiri atas presentasi perjalanan Rumah Bersalin FATIMAH dari tahun 1973 sampai dengan sekarang, kemudian dilanjutkan dengan Hospital Tour.

Kami dari manajemen Rumah Bersalin FATIMAH Ujungberung Bandung mengucapkan terima kasih kepada PT Nestle dan IBI Jawa Timur atas kepercayaannya menjadikan Rumah Bersalin FATIMAH sebagai salah satu  Rumah Bersalin percontohan.

Semoga di lain kesempatan kita dapat menindaklanjuti kerjasama yang lainnya.

Salam,

Hj. Fatimah Hasanuddin, A.Md.Keb., S.Pd.

Kamis, 09 Juni 2011

KEBUTUHAN DASAR ANAK UNTUK TUMBUH KEMBANG YANG OPTIMAL


Berdasarkan Konvensi Hak-Hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1989 dan telah diratifikasi Indonesia pada tahun 1990, Bagian 1 Pasal 1, yang dimaksud Anak adalah setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.
Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 1 ayat 1, Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sedangkan menurut WHO, batasan usia anak antara 0-19 tahun.
Ada 4 prinsip dasar hak anak yang terkandung di dalam Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1989 dan telah diratifikasi Indonesia pada tahun 1990, yaitu: Non-diskriminasi, Kepentingan yang terbaik bagi anak, Hak untuk hidup ; kelangsungan hidup; dan perkembangan, serta Penghargaan terhadap pendapat anak.
Menurut prinsip dasar hak anak yang ke-3, anak mempunyai hak untuk bertumbuh dan berkembang. Bertumbuh berarti bertambahnya ukuran tubuh dan jumlah sel serta jaringan di antara sel-sel. Indikator untuk mengetahui adanya pertumbuhan adalah: adanya pertambahan tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala. Berkembang adalah bertambahnya struktur, fungsi  dan kemampuan anak yang lebih kompleks, meliputi kemampuan :
  • Sensorik (kemampuan mendengar, melihat, meraba, merasa, mencium)
  • Motorik (terdiri dari gerak kasar, halus, dan kompleks)
  • Berkomunikasi dan berinteraksi (tersenyum, menangis, bicara, dll)
  • Kognitif (kemampuan mengenal, membandingkan, mengingat, memecahkan masalah, dan kecerdasan)
  • Bersosialisasi, kemandirian
  • Kreativitas
  • Moral dan spiritual (nilai-nilai adat dan budaya serta agama)
  • dan lain-lain.
Pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara bersamaan (simultan). Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan syaraf pusat dengan organ tubuh yang dipengaruhinya. Misal: kemampuan bicara merupakan hasil dari perkembangan sistem syaraf yang mengendalikan proses bicara.
Hal-hal yang menentukan Kualitas Tumbuh Kembang Anak
Kualitas tumbuh kembang anak ditentukan oleh:
  • Faktor intrinsik, yaitu faktor-faktor bawaan sejak lahir (genetik-heredokonstitusional)
  • Faktor ekstrinsik, yaitu faktor-faktor sekeliling (lingkungan) yang mempengaruhi tumbuh kembang anak sejak di dalam kandungan hingga lahir dan bertumbuh-kembang menjadi seorang anak.
Kebutuhan-kebutuhan Dasar Anak untuk Tumbuh Kembang yang optimal meliputi Asuh, Asih, dan Asah yaitu:
1. Kebutuhan Fisik-Biologis (ASUH):
Meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti: nutrisi, imunisasi, kebersihan tubuh & lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, olahraga, bermain dan beristirahat.
  • Nutrisi : Harus dipenuhi sejak anak di dalam rahim. Ibu perlu memberikan nutrisi seimbang melalui konsumsi makanan yang bergizi dan menu seimbang. Air Susu Ibu (ASI) yang merupakan nutrisi yang paling lengkap dan seimbang bagi bayi terutama pada 6 bulan pertama (ASI Eksklusif).
  • Imunisasi : anak perlu diberikan imunisasi dasar lengkap agar terlindung dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
  • Kebersihan : meliputi kebersihan makanan, minuman, udara, pakaian, rumah, sekolah, tempat bermain dan transportasi
  • Bermain, aktivitas fisik, tidur : anak perlu bermain, melakukan aktivitas fisik dan tidur karena hal ini dapat
    • merangsang hormon pertumbuhan, nafsu makan, merangsang metabolisme karbohidrat, lemak, dan  proteiN
    • merangsang pertumbuhan otot dan tulang
    • merangsang perkembangan
  • Pelayanan Kesehatan: anak perlu dipantau/diperiksa kesehatannya secara teratur. Penimbangan anak minimal 8 kali setahun dan dilakukan SDIDTK minimal 2 kali setahun. Pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi setiap bulan Februari dan bulan Agustus. Tujuan pemantauan yang teratur untuk : mendeteksi secara dini dan menanggulangi bila ada penyakit dan gangguan tumbuh-kembang, mencegah penyakit serta memantau pertumbuhan dan perkembangan anak
2. Kebutuhan kasih sayang dan emosi (ASIH):
Pada tahun-tahun pertama kehidupannya (bahkan sejak dalam kandungan), anak mutlak memerlukan ikatan yang erat, serasi dan selaras dengan ibunya untuk  menjamin tumbuh kembang fisik-mental dan psikososial anak dengan cara:
  • menciptakan rasa aman dan nyaman, anak merasa dilindungi,
  • diperhatikan minat, keinginan, dan pendapatnya
  • diberi contoh (bukan dipaksa)
  • dibantu, didorong/dimotivasi, dan dihargai
  • dididik dengan penuh kegembiraan, melakukan koreksi dengan kegembiraan dan kasih sayang (bukan ancaman/ hukuman)
3. Kebutuhan Stimulasi (ASAH):
Anak perlu distimulasi sejak dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual anak. Dasar perlunya stimulasi dini:
  • milyaran sel otak dibentuk sejak anak di dalam kandungan usia 6 bulan dan belum ada hubungan antar sel-sel otak (sinaps)
  • orang tua perlu merangsang hubungan antar sel-sel otak
  • bila ada rangsangan akan terbentuk hubungan-hubungan baru (sinaps)
  • semakin sering di rangsang akan makin kuat hubungan antar sel-sel otak
  • semakin banyak variasi maka hubungan antar se-sel otak semakin kompleks/luas
  • merangsang otak kiri dan kanan secara seimbang untuk mengembangkan multipel inteligen dan kecerdasan yang lebih luas dan tinggi.- stimulasi mental secara dini akan mengembangkan mental-psikososial anak seperti: kecerdasan, budi luhur, moral, agama dan etika, kepribadian,
  • ketrampilan berbahasa, kemandirian, kreativitas, produktifitas, dst
Orang tua perlu menganut pola asuh demokratik, mengembangkan kecerdasan emosional, kemandirian, kreativitas, kerjasama, kepemimpinan dan moral-spiritual anak. Selain distimulasi, anak juga perlu mendapatkan kegiatan SDIDTK lain yaitu deteksi dini (skrining) adanya kelainan/penyimpangan tumbuh kembang, intervensi dini dan rujukan dini bila diperlukan.▄ (Oleh: dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM)

sumber : Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2011

Skrining Bayi Baru Lahir untuk Cegah Keterbelakangan Mental


Kunci keberhasilan pengobatan anak yang menderita gangguan Hipotiroid Kongenital adalah deteksi dini dan pengobatan sebelum berumur 1-3 bulan, yang secara kasat mata sulit diketahui. Gangguan penyakit baru akan nampak manifestasinya setelah anak berumur kurang lebih satu tahun, ujar Dr. Budihardja, DTM&H, MPH, Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak ketika membuka seminar  “Skrining Bayi Baru Lahir untuk Mencegah Keterbelakangan Mental” di Jakarta, 25 Mei 2011.
Menurut Dirjen Bina Gizi dan KIA, skrining atau uji saring pada bayi baru lahir atau Neonatal Screening dilakukan untuk mendapatkan generasi yang berkualitas. Skrining adalah tes yang dilakukan pada saat bayi baru berumur beberapa hari, untuk mengetahui adanya gangguan sejak awal kelahiran, sehingga apabila ditemukan gangguan/kelainan dapat diantisipasi sedini mungkin.

“Seringkali bayi baru lahir tampak normal dan tidak terlihat sakit atau seperti ada gangguan. Kondisi Hipotiroid Kongenital baru dikenali setelah timbul gejala khas dan sudah terjadi dampak permanen yang baru nampak manifestasinya setelah anak berumur kurang lebih 1 tahun. Akibatnya penderita mengalami gangguan pertumbuhan atau Cebol dan mental terbelakang/ retardasi mental”, tambah Dr.Budihardja.

Mengingat pentingnya program skrining bayi baru lahir khususnya Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) sebelum usia 2 bulan perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat maupun kepada tenaga kesehatan terkait khususnya di rumah sakit agar skrining bayi baru lahir dijadikan sebagai prosedur tetap.

Upaya tersebut telah dilakukan organisasi profesi dan Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2009 melalui Kelompok Kerja Program Skrining Bayi Baru Lahir (Pojoknas Skrining BBL). “Kegiatan ini merupakan usaha mensosialisasikan dan melancarkan pelaksanaan skrining hipotiroid kongenital pada bayi baru lahir, dan telah direkomendasikan 2 (dua) laboratorium RSHS dan laboratorium RSCM. Namun begitu, masih dibutuhkan usaha yang sangat besar dan juga koordinasi dengan pihak swasta agar pelaksanaan skrining pada bayi baru lahir ini dapat dilakukan di seluruh Indonesia”, tambah Dr. Budihardja.

Dr. Budihardja menjelaskan berdasarkan telaah rekam medis tahun 1995 di RSCM dan RSHS terhadap 134 anak, menunjukkan bahwa lebih dari tujuh puluh (70) persen penderita didiagnosis setelah umur satu (1) tahun dan hanya dua koma tiga (2,3) persen dibawah 3 bulan, dimana akibat dari penyakit ini adalah gangguan pertumbuhan dan mental terbelakang pada penderita.

Deteksi dini melalui skrining pada bayi baru lahir merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan generasi berkualitas untuk kemajuan bangsa agar dapat bersaing dalam persaingan global.

Sebagian besar negara di dunia, skrining pada bayi baru lahir sudah dilakukan secara rutin. Di Amerika dan Eropa mulai tahun 1974, Hongkong sejak 1978, dan Inggris sejak 1982. Sementara untuk negara-negara ASEAN, Singapura sudah memulai sejak 1982, Malaysia sejak 1991, disusul Thailand dan Philipina pada tahun 1992 dan 1996.

sumber : Kementerian Kesehatan RI, 2011